March 31, 2021
/
Legalitas

SEPUTAR MODAL DASAR, MODAL DITEMPATKAN, DAN MODAL DISETORKAN

Modal dasar - Di era 4.0 ini banyak orang yang tertarik untuk bergelut dalam menjalankan sebuah bisnis. Hal ini wajar, mengingat perkembangan yang sudah begitu masif pada bisnis – bisnis startup dan bisnis UMKM saat ini.

Sehingga hal ini menuntut kita juga untuk perlu belajar dan mengenal bagaimana pengelolaan pendanaan mereka. Terutama, memang terkait dengan pendirian sebuah entitas perusahaan.

Terkhusus untuk bisnis starup, apabila mereka menjalankan kegiatannya berdasarkan pendanaan yang berasal dari seorang inverstor luar negeri mengingat bahwa bisnis starup sering berkaitan dengan penggunaan teknologi yang cukup besar, keikutsertaan PMA ini (Penanaman Modal Asing) mengharuskan starup untuk mendirikan bentuk usaha berbentuk PT.

Perlu untuk diketahui, meskipun kini sudah tidak ada lagi peraturan yang menetapkan modal minimal pada pendirian PT, namun masih terdapat beberapa hal yang perlu diketahui terkait pemodalan sebelum Anda melakukan pendirian.

Hal yang perlu diketahui ini adalah sebuah ketentuan modal yang perlu untuk dipenuhi dan patuhi agar dapat mendirikan sebuah PT. Ketentuan modal ini terdiri dari modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor.

Oleh karena itu, penting untuk para pembisnis starup dan juga para pengusaha bidang lain untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor.

PENGERTIAN SERTA PERBEDAAN MODAL DASAR, MODAL DISETORKAN, DAN MODAL DITEMPATKAN

Setiap orang yang menjalankan usaha tentu saja membutuhkan sebuah modal. Dimulai dari modal nominal, modal kreativitas, hingga modal semangat dalam menjalankan usahanya. Selain itu, pernah pula kita mendengar istilah modal yang disebut dengan modal tetap dan modal lancar serta modal sendiri dan modal pinjalaman.

Apabila dalam pendirian bentuk usaha PT, Anda akan mendengar dengan istilah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor. Modal ini menjadi sebuah ketentuan yang perlu Anda penuhi dan patuhi sebelum mendirikan PT dikarenakan ketiga modal ini menjadi salah satu syarat agar PT dapat berdiri.

Untuk tahu lebih jelasnya silakan simak ulasan berikut ini:

1. Modal Dasar

Mungkin seperti yang Anda sudah tahu untuk modal dasar ini adalah seluruh nilai nominal saham perusahaan. Dimana lebih dikenal dalam bentuk anggaran dasar yang tertera dalam dokumen Akta pendirian.

Untuk modal dasar ini memang pada prinsipnya merupakan total jumlah saham yang telah diterbitkan oleh perusahaan. Sebagaimana telah dikutip oleh Tri Jata Ayu Pramesti.S.H. dalam artikel yang berjudul terkait perbedaan modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetorkan, untuk jumlah anggaran yang ditentukan dalam anggaran dasar ini ialah nilai nominal yang murni.

Dimana pada peraturan yang sudah dibahas terkait perseroan terbatas dapat kita temukan bahwa pada peraturan sebelumnya yaitu undang – undang nomor 40 tahun 2007 pasal 32 modal dasar ditetapkan sebagai berikut:

  • Modal dasar perseroan yangpaling sedikit Rp.50.000.000 juta rupiah
  • Undang – undang yang mengaturkegiatan usaha tertentu ini dapat menentukan jumlah minimum modal perseroan.Dimana jauh lebih besar daripada ketentuan modal dasar sebagaimana dimaksudkan pada ayat 1.
  • Perubahan besarnya modal dasar inisebagaimana di maksud pada ayat 1, telah ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

Namun, kini ketentuan ini sudah tidak berlaku dan di ubah dengan peraturan pemerintah tahun 2016 tentang perubahan modal dasar perseroan terbatas. Peraturan ini singkatnya menetapkan bahwa tidak ada lagi jumlah minimum modal dasar. Akan tetapi, khusus untuk sektor – sektor usaha tertentu tetap terdapat batasan minimum yang telah diatur dalam peraturan perundang – undangan.

2. Modal Ditempatkan

Selain modal dasar, kita juga harus tahu apa itu modal ditempatkan, dimana jumlah saham yang sudah diambil pendiri atau pemegang saham. Mengapa berkaitan dengan jumlah saham yang diambil? Karena dengan kata lain, modal yang ditempatkan ini adalah modal yang akan disanggupi oleh pendiri atau pemegang saham untuk dilunasi.

Sehingga dengan begitu dimungkinkan atas modal yang sudah tertulis pada dokumen akta pendirian dalam waktu dekat akan disanggupi untuk disediakan oleh para pemilik modal. Hal ini berarti, keuangan sebuah perusahaan yang awalnya memang nol atau tidak memiliki apa – apa kini bisa mendapatkan suntikan modal. Akan tetapi, memang ada yang sudah langsung tersedia dan ada yang masih dijanjikan untuk tersedia.

 

3. Modal Disetorkan

Lalu, jenis modal pendirian PT yang terakhir ini adalah modal disetor. Untuk modal yang disetorkan adalah modal yang telah dimasukan oleh pemegang saham sebagai bentuk pelunasan pembayaran saham (modal ditempatkan). Sehingga untuk modal disetor adalah modal yang secara nyata telah disetor kepada perusahaan.

Jika memang nilai modal yang dimiliki ini telah diberikan dari para pemilik modal kepada perusahaan. Maka dapat disimpulkan jika nilai tersebut menjadi pemilik perusahaan dan tercatat dalam pembukuan perusahaan. Sehingga, perusahaan ini akan mendapatkan fresh money dari pemilik modal.

Mengenai perbedaan modal ditempatkan dan modal disetor, apabila diringkas, sederhananya untuk modal ditempatkan adalah modal yang dijanjikan pemegang saham untuk dilunasi sedangkan modal disetor adalah ketika pemilik modal sudah menyanggupi untuk memberikan modal atau melunasinya, misal sebesar 500 juta rupiah. Entah dalam bentuk barang atau uang.

PENTING!

Untuk modal ditempatkan dan modal disetor, terdapat ketentuan yang mengatur (Pasal 33 ayat (1) dan (2) UU PT) bahwasannya seminimal-minimalnya 25% dari modal dasar sudah ditempatkan dan disetorkan penuh saat pendirian PT

ILUSTRASI

Untuk memudahkan Anda dalam memahami terkait modal dasar, modal ditempatkan, modal disetor, dan ketentuan minimal 25% modal dasar, berikut akan kami coba ilustrasikan bagaimana ketiga macam modal ini dan ketentuan minimal ini akan berbentuk dalam pendirian sebuah PT. Berikut adalah ilustrasinya:

A, X, dan Y menyepakati bahwa modal dasar perusahaan mereka adalah sebesar Rp 1 miliar yang terdiri dari 1000 lembar saham yang masing-masing lembar sahamnya bernilai sebesar Rp 1 juta.

Dari modal dasar yang telah ditetapkan ini, Rp 1 miliar, mereka menyanggupi untuk melunasinya sebesar Rp 1 miliar pula, maka Rp 1 miliar ini menjadi modal ditempatkan, karena telah disanggupi untuk dilunasi. Namun, perlu diketahui bahwa A, X, dan Y diperbolehkan untuk menyanggupi melunasinya hanya sebesar Rp 500 juta saja yang mana nantinya Rp 500 juta sisanya akan disebut sebagai saham portefel (saham yang belum dikeluarkan/ditempatkan).

Lalu A, X, dan Y memilih untuk melunasinya sebesar Rp 750 rupiah terlebih dahulu dengan Rp 250 juta sisanya akan dilunasi saat pendirian PT yang mana hal ini diperbolehkan. Sesuai dengan ketentuan sebelumnya bahwa seminimal-minimalnya 25% dari modal dasar harus sudah ditempatkan dan disetor penuh saat pendrian PT. Maka dari itu, A, X, dan Y dapat menyisakan 25% dari Rp 1 miliar yaitu sebesar Rp 250 juta untuk dilunasi saat pendirian PT.

Itulah sedikit ilustrasi seputar modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor.